unsent letter
Nay ,
Apa kabar?
Aku dengar kamu telah bertunangan?, selamat ya.
tidak sepantasnya aku mengusik kebahagiaanmu, namun melalui surat ini izinkan aku ingin bicara jujur padamu untuk yang terakhir kali.
Sehancur hancurnya aku, sebenarnya aku tak tega menceritakan ini padamu, namun setiap hari, hatiku rasanya mau meledak, semua meluap dari rasa sakit yang selama ini kupendam sendiri, maaf kalau kata-kataku akan menyakitimu, tapi aku hanya ingin bicara apa adanya, betapa sudah rusak hati dan pikiranku.
Selama ini aku tidak pernah cerita sama orang lain, bukannya aku malu, tapi karena memang aku ngga sanggup menceritakanya, terlalu sakit untuk diceritakan, aku tidak mau orang berasumsi buruk tentang kamu, karna dulu aku mau sama kamu, prinsipku, sebisa mungkin, hal yang ngga enak dalam sebuah hubungan akan aku tutupi. Bukan berarti aku tidak bangga sama kamu. Kamu punya banyak kelebihan, Kamu mandiri, kamu sayang keluarga, kamu pinter masak, dan masih banyak hal baik lainya, tapi memang aku lebih suka hubungan privat.
Selama ini aku selalu berusaha menjadi tempat yang nyaman untuk berbagi keluh kesahmu , sebisa mungkin aku ingin menjadi orang yang bisa kamu percaya, aku ingin kamu nyaman, terbuka dan bersikap apa adanya. karena aku ingin bersamamu, aku mau menerima kelebihan dan kekuranganmu, namun dalam perjalanan, aku merasa sikapmu selalu aneh, setiap kali kita berdekatan kamu malah menjaga jarak, kamu seperti terlalu takut untuk bersandar, aku selalu mencoba mengerti, dengan kesabaranku, aku fikir, "ah mungkin masih trauma, ah mungkin trust issue" aku selalu berusaha memahami keadaanmu, jujur itu sangat melelahkan, bagaikan menyusun kembali kepingan-kepingan hati yang telah hancur, namun tanpa sadar, hatiku juga ikutan remuk.
Dari dulu, sebenarnya aku tau hubunganmu dengan si X itu , aku cari tau bukan karena apa, tapi aku saking inginya berdamai dengan masa lalumu, kalau sikapmu biasa saja aku tidak akan mempertanyakan apa yang terjadi, aku tidak akan mempermasalahkan masa lalumu, kalau kamu ingin aku menutup mata akan kututup , kita berjalan kedepan , pura-pura tidak tau apa yang terjadi, namun ketakutanmu selalu menggangguku, seperti ada duri yang harus kucabut, aku tidak bisa membiarkanmu terus begitu, "I tried so hard to fix you" , jangan sampai ada duri yang mengganggu kebahagiaan kita , namun kamu tak pernah bisa di ajak bicara , kamu malah terus lari, dan berlari, aku tidak pernah benar-benar mendapatkan jawaban yang pasti, kamu selalu bersembunyi, dari dulu aku tau ada sesuatu yang kamu sembunyikan, tanpa sadar, diam mu hanya jadi bom waktu.
Semakin banyak tau, rasanya seperti di tusuk-tusuk tombak , aku fikir biarlah hal-hal yang ngga enak aku tau di awal, mending aku menangis di awal, setelah itu bisa bahagia, namun sikapmu terus saja begitu, yang terjadi malah berlarut-larut dalam rasa sakit dan ketidak jelasan.
Aku selama ini menahanmu, supaya ngga balikan sama dia, hubungan seperti itu bukan hanya membuat hatimu rusak, logikamu juga sudah rusak, seperti pas dia selingkuh, kamu menganggapnya "nyari pelampiasan" seolah ditoleransi, bagaimanapun masalahnya, kalau ada masalah seharusnya di selesaikan berdua, bukanya malah nyari pelampiasan, dan kamu terlalu sering menyalahkan diri sendiri, malah mempertanyakan "mampukah kekasihmu setangguh aku? Bla bla bla" seolah kamu merasa kalau dia pergi karena kekuranganmu, enggak , kamu ngga kekurangan, dia aja yang kurang bersyukur, selingkuh mah selingkuh aja, ngga perlu di cari-cari alasanya untuk pembenaran, ngga ada hubunganya dengan cinta atau ngga cinta , kamu ngga perlu mempertanyakan cintanya, semua tergantung perilaku orangnya. Orang bisa saja tetep selingkuh meskipun dia cinta. karena manusia ngga pernah puas, tapi hal itu tidak bisa ditoleransi, yang lebih ngga masuk akal, kamu malah menyalahkanku , orang asing yang ngga tau apa-apa, kamu menganggap aku menjadi penyebab putusnya hubunganmu dengannya.
Bagaimana bisa aku merebutmu darinya? Bukankah aku dateng pas kalian udah selesai? aku juga ngga kenal kalian sama sekali. Aku bener-bener ngga habis fikir.
Hubungan tanpa komitmen , dengan mudahnya dia bisa pergi dan kembali seenaknya tanpa rasa bersalah, ketika dia dengan yang lain, kamu pun ngga merasa di selingkuhin, karena ini hanyalah hubungan tanpa status, kamu merasa tak punya hak atas kebebasanya, karena cinta, kamu akan terus memaafkanya , aku mencoba menyelamatkanmu dari hubungan seperti itu. Aku mengerti memang keadaan yang memaksa untuk tidak bisa bersama, namun mengertilah, sebahagia apapun kamu , hubungan seperti itu tidak baik untuk terus dijalani, bersyukurnya akhirnya kamu bisa lepas darinya.
Semakin kesini aku merasa kalau itu lebih dari yang aku bayangkan, kamu pernah bilang " jangan berekspektasi terlalu tinggi sama seseorang, karena semua manusia punya sisi buruknya begitupula aku, kau akan kecewa jika aku berlaku diluar ekspektasimu" , pada saat itu, aku mengerti maksud kamu apa, beberapa kali kamu selalu memberikan clue-clue yang sama, dengan kalimat - kalimat yang sejenis, bukanya aku berprasangka buruk, aku hanya bersiap untuk sakit hati, aku selalu mencoba untuk bisa menerima kekuranganmu .
Setiap kali aku kerumahmu, sikapmu selalu aneh, kamu tiba-tiba cuek, kamu sulit dihubungi, aku sudah paham ketika kamu begitu, pasti ada sesuatu yang kamu risaukan, karena kamu berkali-kali seperti itu.
Aku ingat pertama kali aku kerumahmu, setelah aku pulang, kamu tanya " mama ngga ngomong yang nyakitin kamu?" dari situ aku tau kalau itu sesuatu yang diketahui keluargamu, makin kesini asumi-asumsi dipikiranku semakin liar, dipenuhi dengan prasangka-prasangka yang tidak bisa ku bendung, aku tidak pernah marah marah ataupun langsung menghakimi, aku selalu sabar mencari klarifikasi dengan bertanya . "kamu kenapa?" , "apa yang terjadi?", "apa yang kamu takutkan?" , "hal apa yang aku belum tau dari kamu?" dan yang terakhir pertanyaan yang tak pantas untuk ditanyakan yang membuat kamu marah, maaf, aku tidak bermaksud mempertanyakan hal itu, aku juga tidak butuh jawabanya, bukan sebuah pembenaran aku menanyakan privasimu, namun ijinkan aku menjelaskan, yang sebenarnya ingin ku katakan adalah bahwa "aku mau menerima", tidak sepantasnya aku menanyakanya tapi maaf, aku sudah terlalu lelah, selama ini aku hanya bisa menerka-nerka apa yang terjadi padamu, aku tidak mau hal itu menjadi sesuatu yang mengganjal kebahagiaan kita. sampai akhirnya aku mengerti kalau pertanyaan-pertanyaan itu tidak bisa kamu jawab.
Terakhir kerumahmu, secara tidak sengaja aku semakin mengerti apa yang terjadi, maaf, aku tidak bermaksud menyakitimu, firasatku dari dulu, kamu udah menitipkan ke mas mu.
Kecewanya , kenapa hal sepenting itu kamu ngga jujur dari awal? dan sampai detik ini, tidak ada seorangpun yang berkata jujur padaku , kalau kamu tidak menceritakanya karena ngga mau menyakiti, kamu fikir selama ini aku sudah sehancur apa, harusnya sesegera mungkin kamu menceritakanya di awal-awal kita kenal, kamu malah membiarkanku berlarut larut dalam asumsi-asumsi yang tak pernah di klarifikasi , setiap kali aku tanya kenapa , kamu tidak pernah memberikanku jawaban yang sebenarnya, selama ini aku beneran menunggumu , hanya kamu yang ku tunggu, aku korbankan hati, waktu dan pikiranku , tiga tahun bukanlah penantian yang singkat, apa aku menunggu hanya untuk terluka?.
Setelah menanti sekian lama, tanpa menjelaskan apa-apa kamu seenaknya bilang "kita ngga cocok, ada beberapa sifat kamu yang ngga bisa aku terima!" , apa kamu tau betapa sakitnya selama ini aku sudah memaksakan diri? aku selalu mencoba bertahan meskipun merasa tidak diharapkan, dalam keraguan aku selalu bertanya kepadamu untuk menyakinkan hati "kamu ada keinginan untuk bersamaku apa ngga sih?" . lalu kamu bilang kalau kamu mau ditunggu, aku kira akan dapat jawaban apa, tapi setelah kita bertemu, daripada berkata jujur kamu malah mencari cari kesalahanku untuk lari.
memang salahku sendiri memilih bertahan.
Kalau kamu tanya apa aku mau menerima? aku tidak tau, yang jelas selama ini sesulit apapun keadaanya, aku selalu memilih untuk bertahan , namun sikapmu selalu membuatku ragu , aku ragu aku bisa menjalani bersamamu , selama ini aku merasa sendiri , aku sudah lelah berjuang sendiri, aku lelah dengan penantian tanpa ujung, aku lelah dengan konflik batin dan ketidak jelasan yang berlarut-larut , dan yang paling aku benci adalah ketika ada masalah bukanya di selesaikan baik baik, kamu malah menghilang, bukanya di bicarakan berdua untuk mendapatkan solusi , kamu malah memilih update status, membiarkanku berasumsi apa yang terjadi , aku lebih suka kamu menegur langsung kepadaku saat aku salah walaupun marah tetapi langsung menjelaskan masalahnya daripada harus mencoba mengerti kode-kode yang rumit itu. aku sudah lelah mengerti kamu, sabarku sudah mencapai batasnya , aku bukanlah manusia yang berhati baja, aku sudah terlalu hancur.
Sekarang sudah ada orang yang menjagamu, meskipun sakit. Aku baik baik saja.
Tidak masalah jika penantianku jadi sia-sia, memang baiknya kita berpisah daripada saling menyakiti.
Aku berharap semoga dia laki-laki baik dan bertanggung jawab. semoga nanti kita bisa bahagia di kehidupan masing-masing.
Maafkan aku jika kata-kataku menyakitimu. Aku tidak bermaksud apa-apa , aku hanya ingin mengungkapkan kegundahan hati yang selama ini kupendam.
Nay, jika waktu bisa di putar kembali, aku tidak ingin sama sekali terlibat.
Selamat Tinggal
.
Komentar
Posting Komentar